Wamen ESDM : Belum Ada Teknologi yang Mampu Menguras 100 Persen Sebuah Sumur Minyak

Senin, 31 Juli 2017     21:03:05     superadmin     Umum     194x dilihat
Sebarkan:

Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral RI Arcandra Tahar memberikan kuliah umum dengan tema "Membangun Kedaulatan Energi" kepada puluhan mahasiswa di Kampus Universitas Pertahanan Indonesia, Sentul, Bogor, Kamis (27/7). Kepada mahasiswa Universitas Pertahanan Indonesia, Wamen Arcandra bertanya apakah benar bahwa suatu saat cadangan minyak bumi ini, termasuk di Indonesia akan habis sehingga tidak lagi tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kehidupan manusia.

"Apakah benar atau tidak kalau suatu saat nanti minyak akan habis? Kalau menurut saya enggak karena menurut saya yang benar adalah ketika saat manusia tidak akan mampu lagi memproduksi minyak, karena minyaknya tetap ada di bumi," terang Arcandra.

Oleh karena itu agar manusia bisa tetap memanfaatkan minyak di bumi ini maka Wamen Arcandra menjelaskan tentang pentingnya penguasaan teknologi di dunia minyak dan gas yang memerlukan teknologi tinggi dalam proses pencariannya dan penuh high risk (resiko tinggi). Teknologi migas yang ada saat ini belum ada yang mampu menguras seratus persen dari sebuah sumur minyak, sehingga ke khawatiran akan kehabisan cadangan minyak di Indonesia tidak akan mungkin terjadi.

"Hingga saat ini, belum ada atau ditemukan sebuah teknologi yang mampu menguras 100 persen yang ada adalah dalam waktu 10-12 tahun kita tidak mampu lagi memproduksi minyak. Sementara cadangan minyaknya masih ada" jelas Arcandra.

Dalam paparannya Arcandra juga menyinggung tentang Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33. Menurutnya makna pasal tersebut adalah bahwa pemanfaatan sumber daya alam seluruhnya harus untuk kepentingan dan kemakmuran bangsa. "Makna Pasal 33, kalau bisa sumber daya alam kita dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa. Kedua, teknologi untuk pemanfaatannya kalau bisa berasal dari kita sendiri. Ketiga, pendanaan untuk pengelolaannya kalau bisa dari kantong kita sendiri. Keempat, hasilnya harus dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri. Jika ada lebihnya, baru kemudian kita ekspor ke luar," terangnya (RD).

Sumber: Kementerian ESDM

Tags: